Nama : Charlye Maatoke
Kelas : X-2
Masuknya Agama dan Kebudayaan Hindu dan Buddha di Indonesia
Indonesia adalah negara kepulauan yang letaknya strategis karena berada di jalur pelayaran yang menghubungkan negara-negara Barat dan Timur. Berlabuhnya kapal-kapal dagang berbagai bangsa membuat masyarakat Indonesia tidak dapat menghindar dari pengaruh luar.
Hubungan dagang antara Indonesia dan India terjadi sejak tahun 1 M. Hubungan perdagangan ini diikuti pula oleh hubungan kebudayaan, seperti agama, sistem pemerintahan, sosial, dan budaya sehingga terjadi percampuran kebudayaan di antara dua bangsa tersebut. Hubungan itu membuat bangsa Indonesia mengenal agama Hindu dan Buddha.
Berikut beberapa teori (hipotesis) terkait proses masuknya agama dan kebudayaan Hindu dan Buddha ke Indonesia.
1. Teori Waisya
Teori ini, dikemukakan oleh N. J. Krom, didasarkan pada alasan bahwa motivasi terbesar datangnya bangsa India ke Indonesia adalah untuk berdagang. Golongan terbesar yang datang ke Indonesia adalah para pedagang India (kasta waisya). Mereka bermukim di Indonesia, bahkan menikah dengan orang Indonesia. Selanjutnya, mereka aktif melakukan hubungan sosial, tidak saja dengan masyarakat Indonesia secara umum, tetapi juga dengan pemimpin kelompok masyarakat. Lewat interaksi itu, mereka menyebarkan dan memperkenalkan agama dan kebudayaan mereka.
Teori waisya diragukan kebenarannya. Jika para pedagang yang berperan terhadap penyebaran kebudayaan, pusat-pusat kebudayaan mestinya hanya terdapat di wilayah perdagangan, seperti di pelabuhan atau di pusat kota yang ada di dekatnya. Kenyataannya, pengaruh kebudayaan Hindu ini banyak terdapat di wilayah pedalaman, dibuktikan dengan adanya kerajaan-kerajaan bercorak Hindu di pedalaman Pulau Jawa.
2. Teori Kesatria
Menurut teori yang dikemukakan F. D. K Bosch dan J. L. Moens ini, pada masa lampau, di India, sering terjadi perang antargolongan. Para prajurit yang kalah atau jenuh menghadapi perang lantas meninggalkan India. Rupanya, di antara mereka, ada pula yang sampal ke wilayah Indonesia. Mereka inilah yang kemudian berusaha mendirikan koloni-koloni baru sebagal tempat tinggalnya. Di tempat itu pula, terjadi proses penyebaran agama dan budaya Hindu. Kelemahan teori ini adalah tidak adanya bukti tertulis bahwa pernah terjadi kolonisasi oleh para kesatria India.
3. Teori Brahmana
Menurut teori yang dikemukakan J.C. van Leur ini, para orahmana datang dari India ke Indonesia atas undangan pemimpin suku dalam rangka melegitimasi kekuasaan mereka sehingga setaraf dengan raja-raja di India, Teorl ini didasarkan pada pengamatan terhadap sisa-sisa peninggalan kerajaan.kerajaan bercorak Hindu di Indonesia, terutama prasasti-prasasti berbahasa Sanskerta dan huruf Pallawa. Di India, bahasa dan huruf itu hanya digunakan dalam kitab suci Weda dan upacara keagamaan, dan hanya golongan brahmana yang mengerti dan menguasainya.
Teori ini pun diragukan kebenarannya. Alasannya, kendati benar hanya para brahmana yang dapat membaca dan menguasai Weda, para pendeta Hindu itu pantang menyeberangi lautan.
4. Teori Arus Balik
Menurut teori yang dikemukakan oleh G.Coedes ini, berkembangnya pengaruh dan kebudayaan India ini dilakukan oleh bangsa Indonesia sendiri, Bangsa Indonesia mempunyai kepentingan untuk datang dan berkunjung ke India, seperti mempelajari agama Hindu dan Buddha, Sekembalinya dari India, mereka membawa pengetahuan tentang agama dan kebudayaan di India.
Banyak orang lebih meyakini teori arus balik masih memerlukan banyak bukti lagi untuk memperkuat kebenarannya.
Sementara itu, sekitar abad V, agama Buddha mulai dikena di Indonesia. Pada akhir abad V, seorang biksu Buddha dari India mendarat di sebuah kerajaan di Pulau Jawa, tepatnya di Jawa Tengah sekarang. Pada akhir abad VI, I Tsing, peziarah Buddha dari Tiongkok, berkunjung ke Pulau Sumatra, kala itu disebut Swarnabhumi, tepatnya di Kerajaan Sriwijaya. la menermukan bahwa ajaran Buddha diterima luas oleh rakyat, dengan Sriwijaya sebagai pusat penting pembelajaran ajaran Buddha.
Pada pertengahan abad VIll, Jawa Tengah berada di bawah kekuasaan raja-raja Dinasti Syallendra yang merupakan penganut Buddha. Mereka membangun berbaga monumen Buddha di Jawa, sepertl Candi Borobudur. Monumen ini selesai dibangun awal abad IX.
Kerajaan-kerajaan Hindu dan Buddha di Indonesia
1. Kerajaan Salakanagara
Sebenaranya, hingga saat ini, keberadaan mengenai kerajaan ini memang masih menjadi perdebatan para ahli, seperti sejarawan dan arkeolog. Hal ini disebabkan oleh minimnya bukti-bukti sejarah, baik yang berbentuk artefak maupun prasasti tentang kerajaan ini. Satu-satunya naskah kuno yang dijadikan sumber adalah naskah dari Pangeran Wangsakerta dari Cirebon.
Meskipun masih diwarnai dengan banyak keraguan mengenai kerajaan ini, kita tetap perlu mengetahuinya. Hal ini karena kerajaan ini, terutama Dewawarman, yang disebut-sebut sebagai pendirinya ternyata memiliki hubungan secara genealogi dengan dinasti raja-raja Jawa, seperti Kerajaan Tarumanagara, Kalingga, hingga Mataram Kuno.
Keberadaan Salakanagara yang tertulis di dalam naskah Wangsakerta menyebutkan seseorang yang bernama Dewawarman, yang ternyata merupakan seorang utusan dari Maharaja Pallawa dari India. Sebagai utusan raja, Dewawarman telah banyak mengunjungi kerajaan-kerajaan lain, seperti di sejumlah kerajaan di wilayah Tiongkok dan Abbasiyah (Mesopotamia). Ketika berkunjung ke Nusantara, sampailah ia di perairan laut sekitar Teluk Lada, yang berdekatan dengan wilayah Salakanagara. Saat itu, ia melihat sekelompok bajak laut yang sedang mengganggu kegiatan perdagangan antarnegeri di wilayah tersebut. Dewawarman kemudian bersama-sama dengan pasukannya berhasil menumpas para bajak laut tersebut. Keberadaan dari para bajak laut ini sekaligus menjadi bukti bahwa pada masa sekitar abad 1 Masehi di wilayah tersebut telah berlangsung aktivitas kemaritiman dan perdagangan antarpulau. Dewawarman kemudian menjadikan dirinya sebagai raja pertama di Salakanagara dan memerintah pada 130-168 M, dengan Teluk Lada (Pandeglang, Banten) yang menjadi pusat kerajaan. Pada 132 M, Raja Dewawarman diberitakan telah mengirimkan utusan ke Tiongkok dan membangun kompleks candi Buddha di Batujaya yang berlanggam Hindu. Menurut naskah Wangsakerta, agama Hindu dan Buddha memang sudah dianut oleh sebagian masyarakat Salakanegara saat Itu, sayang tidak ada bukti-bukti tertulis, seperti prasasti, sehingga diperkirakan pada masa itu belum dikenal tulisan.
Pada 150 M, Ptolomeus dari Yunani menyebut nama Argyre dalam salah satu peta dunia, yang kemudian merujuk pada Salakanagara. Setelah Dewawarman wafat pada 168 M, Salakanagara selanjutnya diperintah oleh keturunannya. Pada saat Dewawarman VII memerintah, diberitakan kerajaan ini berada dalam masa kejayaannya. Kerajaan Salakanagara mengalami keruntuhan pada 362 M yang diperkirakan sebagai akibat serangan dari Kerajaan Tarumanegara. yang rajanya sebenarnya masih merupakan keturunan Raja Dewawarman juga.
1. Kerajaan Kutai
a. Lokasi dan Sumber Sejarah
Kutai (Kutai Martadipura) merupakan salah satu kerajaan Hindu tertua di Indonesia. Berdiri sekitar abad IV, kerajaan ini berlokasi di daerah Kutai, Kalimantan Timur. Pusat pemerintahannya diperkirakan di hulu Sungai Mahakam dengan wilayah kekuasaan meliputi hampir seluruh wilayah Kalimantan Timur.
Bukti arkeologis keberadaan kerajaan ini adalah temuan prasasti yang ditulis di atas tujuh buah Yupa (tugu batu). Prasasti tersebut ditemukan antara tahun 1879 dan 1940 di daerah hulu Sungai Mahakam. Prasasti tersebut ditulis dengan huruf Pallawa (huruf yang banyak digunakan di wilayah India selatan) dan berbahasa Sanskerta.
Dari salah satu Yupa tersebut, diketahui bahwa raja yang memerintah Kerajaan Kutai saat itu adalah Mulawarman. Namanya dicatat dalam Yupa karena kedermawanannya menyedekahkan 20.000 ekor sapi kepada kaum brahmana.
Prasasti-prasasti tersebut tidak memiliki angka tahun. Namun, gaya bahasa dan ciri tulisan dalam prasasti tersebut banyak digunakan di India sekitar abad IV.
b. Keadaan Masyarakat dan Kehidupan Sosial-Budaya
Sumber tentang Kerajaan Kutai sangat terbatas. Namun, dari ketujuh Yupa dapat disimpulkan beberapa hal berikut. Pertama, disebutnya nama Kudungga yang menurut para sejarawan merupakan nama asli Indonesia. Disebutkan pula, Kudungga mempunyai putra bernama Aswawarman, yang disebut-sebut sebagai pendiri dinasti. Aswawarman memiliki putra bernama Mulawarman. Dua nama terakhir jelas menggunakan bahasa Sanskerta. Mereka adalah raja Kutai yang merupakan orang Indonesia asli dan memeluk agama Hindu.
Kedua, Raja Mulawarman melakukan upacara pengurbanan dan memberikan hadiah atau sedekah kepada para brahmana sejumlah 20.000 ekor sapi. Hal ini menunjukkan Kerajaan Kutai di bawah Mulawarman cukup kaya dan makmur.
Dari letaknya yang tidak jauh dari pantai, Kutai kemungkinan besar menjadi tempat singgah kapal-kapal dagang India yang akan berlayar ke Tiongkok dengan melalui Makassar dan Filipina.
Pada masa Kerajaan Kutai pula, mulai dikenal kebiasaan menulis di atas batu. Hal ini keberlanjutan dari tradisi megalitik yang sudah ada sebelum masuknya pengaruh Hindu, yaitu dalam bentuk menhir dan punden berundak.
Hal ini dilakukan sebab di India tidak ditemukan kebiasaan menulis di atas tugu batu. Di sini tampak terjadi percampuran antara kebudayaan Hindu dan kebudayaan asli yang telah berkembang pada zaman praaksara.
Kerajaan Kutai (bercorak Hindu) berakhir saat Raja Kutai Maharaja Dharma Setia tewas di tangan Raja Kutai Kartanegara ke-13, yaitu Aji Pangeran Anum Panji Mendapa (kerajaan Islam).
Komentar
Posting Komentar